<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bagusnusantoro's Weblog</title>
	<atom:link href="http://bagusnusantoro.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bagusnusantoro.wordpress.com</link>
	<description>membangun Impian</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 May 2009 16:20:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bagusnusantoro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bagusnusantoro's Weblog</title>
		<link>http://bagusnusantoro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bagusnusantoro.wordpress.com/osd.xml" title="Bagusnusantoro&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bagusnusantoro.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Satu Kisah Daripada Buku Di Atas Sajadah Cinta Karangan Habiburrahman El-Shirazy</title>
		<link>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/satu-kisah-daripada-buku-di-atas-sajadah-cinta-karangan-habiburrahman-el-shirazy/</link>
		<comments>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/satu-kisah-daripada-buku-di-atas-sajadah-cinta-karangan-habiburrahman-el-shirazy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 10:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagusnusantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagusnusantoro.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Derita Mengabadikan Cinta Kini tibalah saatnya kita semua mendengar nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat prof.Dr.Mamduh Hassan Al Gonzouri. Beliau adalah ketua Ikatan Doktor Cairo dan direktor Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar saraf terkemuka di Timur Tengah, yang tidak lain adalah juga pensyarah bagi kedua mempelai. Kepada Professor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagusnusantoro.wordpress.com&amp;blog=4620730&amp;post=13&amp;subd=bagusnusantoro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Derita Mengabadikan Cinta</strong></p>
<p><strong></strong><br />
Kini tibalah saatnya kita semua mendengar nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat prof.Dr.Mamduh Hassan Al Gonzouri. Beliau adalah ketua Ikatan Doktor Cairo dan direktor Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar saraf terkemuka di Timur Tengah, yang tidak lain adalah juga pensyarah bagi kedua mempelai. Kepada Professor Mamduh dipersilakan”.<br />
Suara pengerusi majlis walimatul urs’ itu bergema di seluruh ruangan majlis pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi Sungai Nil, Cairo. Seluruh hadirin menanti dengan penuh penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar saraf kelulusan London itu. Hati mereka menanti-nanti, mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesihatan saraf dari professor yang murah dengan senyuman dan sering muncul di televisyen itu.<br />
Sejurus kemudian, seorang lelaki separuh baya berambut putih melangkah menuju pentas. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan kewibawaan. Kepalanya yang sedikit botak meyakinkan bahawa ia memang ilmuwan berjaya. Sorot matanya tajam dan kuat, mengisyaratkan peribadi yang tegas. Sebaik sampai di pentas, kamera video dan lampu sorot terus menyunting ke arahnya. Sesaat sebelum berbicara, seperti biasa, ia sentuh bingkai kacamatanya,lalu…<br />
Bismillah. Alhamdulillah. Wash shalatu was salamu’ala Rasulillah. Amma ba’du. Sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak boleh memberikan nasihat lazimnya para ulama, para mubaligh, atau para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita.<br />
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan khayalan belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tidak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan seluruh hadirin yang dimuliakan Allah boleh mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya. Saya berharap kisah nyata saya ini dapat melunakkan hati-hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dan kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.<br />
Hadirin yang terhormat,<br />
Tiga puluh lima tahun yang lalu. Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira berpangkat tinggi, keturunan “Pasha” yang sangat terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga bangsawan terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, pakar ekonomi lulusan Sorbonne yang memegang jawatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik negeri ini. Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana kebangsawanan dengan aturan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma kebangsawanan. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan bangsawan atau kalangan high class sepadan!<br />
Entah mengapa, saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkongkong dan terbelenggu oleh golongan sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan hidup sebenar yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justeru saat bergaul dengan teman-teman dan kalangan bawahan yang menghadapi kehidupan dengan penuh tentangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat keluarga saya gusar, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak boleh menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang-orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengalas perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak ambil peduli.<br />
Kerana ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari datuk, dan ibu mampu mengembangkannya berlipat kali ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa bercuti ke luar negeri, ke Paris, Rom, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika bercuti di dalam negeri, ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di dalam Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.<br />
Sebaik masuk fakulti kedoktoran, saya dibelikan kereta mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan kereta biasa sahaja, agar lebih senang bergaul dengan teman-teman dan para pensyarah. Tapi beliau menolak mentah-mentah.<br />
“Justeru dengan kereta mewah itu kamu akan dihormati siapa sahaja”.Tegas ayah. Terpaksa saya pakai kereta itu meskipun dalam hati saya membantah pendapat materialistik ayah. Dan agar lebih selesa di hati, saya meletakkan kereta itu jauh dari tempat kuliah.<br />
Di kuliah saya jatuh cinta pada teman sekuliah. Seorang gadis yang penuh pesona zahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan akhlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.<br />
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga menyintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diredhai Allah, iaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakulti. Maka datanglah saatnya untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Saya buka keinginan untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu dan saudara mara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.<br />
Selepas kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Sebaik saja saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan terus membanting gelas yang ada berdekatannya. Bahkan beliau mengancam: “Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!” Beliau menegaskan bahawa selama beliau masih hidup rancangan pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.<br />
Hadirin semua, adakah Anda tahu apa sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian kejam? Sebabnya, kerana ayah calon isteri saya itu adalah tukang cukur…..tukang cukur, ya sekali lagi…tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Kerana meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajipannya pada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Melalui tangannya ia lahirkan tiga orang doktor, seorang jurutera dan seorang leftenan, meskipun dia sama sekali tidak pernah mengecap bangku pendidikan.<br />
Ibu, saudara dan seluruh keluarga berpihak pada ayah. Saya sendiri berdiri, tiada yang membela. Pada saat yang sama adik lelaki saya membawa pasangannya yang telah hamil dua bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah, ibu terus merestui dan menyiapkan biaya majlis pernikahannya sebanyak lima ratus ribu pound. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina , bertukar ganti pasangan dan akhirnya menghamilkan pasangannya yang entah keberapa di luar aqad nikah, malah direstui dan diberi biaya maha besar? Dengan senang ayah menjawab: “Kerana kamu memilih pasangan hidup dari golongan yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan teman wanita adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Gonzouri”.<br />
Hadirin semua, semakin perit luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya tentu sudah tentu saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat mahu datang, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justeru terus dibiayai. Dan dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahawa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja. Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rancangan saya. Namun la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliau pun menolak mentah-mentah untuk mengahwinkan puterinya dengan saya. Bahkan juga bersumpah tidak akan merestui hal itu selamanya, demi kehormatan keluarganya. Dia tidak rela keluarganya menjadi bahan ejekan dan hinaan kalangan “Pasha”. Namun puterinya berkeras ingin menikah dengan saya dan tidak akan menikah kecuali dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad bernikah dengan saya.<br />
Kami berdua bingung, jiwa kami terseksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi kerana alasan status sosial, sedangkan keluarga dia menolak kerana alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang–orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?<br />
Setelah berfikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke pejabat ma’adzun syari (petugas pencatat nikah) disertai tiga orang sahabat karibku. Kami berikan identiti kami dan kami minta ma’adzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syar’i mengikut madzhab Imam Hanafi. Ketika ma’adzun menutun saya: “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunnatullah wa rasulihi dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai madzhab Imam Abu Hanifah Radiyallahu ‘anhu”. Seketika itu bercucuranlah air mata saya, airmata dia dan airmata ketiga sahabat saya yang tahu secara detail perjalanan menuju aqad nikah itu. Kami keluar dari pejabat itu dengan rasmi sebagai suami-isteri yang sah di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia. Kami punya bukti sah sebagai suami isteri yang diakui negara dan diakui syariat. Kami telah bertekad siap mengahadapi kemungkinan hidup ini murni dengan kekuatan kami, tanpa sandaran dan dukungan siapa pun kecuali pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya bisikkan dalam telinga isteri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.<br />
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, aqad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Sebaik saja mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayahku dari rumah. Kereta dan segala kemudahan yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali beg lusuh berisi beberapa pasang pakaian dan duit sebanyak tujuh pound saja, hanya empat pound! Itulah sisa duit yang saya miliki selesai membayar duit aqad nikah di pejabat ma’adzun. Begitu pula dengan isteriku, ia turut diusir oleh keluarganya. Lebih tragis ia hanya membawa beg kecil berisi pakaian dan wang sebanyak dua pound, tidak lebih. Total, kami hanya pegang enam pound atau dua dolar. Ah, apa yang boleh kami lakukan dengan enam pound. Kami berdua bertemu di jalanan umpama gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil. Rasa cemas, takut, sedih, dan sengsara bercampur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dakapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.<br />
“Habibi, maafkan Kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini Maafkan kanda!.<br />
“Tidak Kanda tidak salah, langkah yang Kanda tempuh benar. Kita telah berfikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak boleh menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berfikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahawa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini, percayalah, insya Allah, saya akan sentiasa mendampingi Kanda, selama Kanda setia membawa dinda di jalan yang lurus. Kita akan buktikan pada mereka bahawa kita boleh hidup dan berjaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu, kita hulurkan tangan kita dan kita berikan senyuman kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Airmata mereka akan mengalir deras seperti derasnya airmata derita kita saat ini.” Jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya memberikan pengaruh yang luar biasa dalam diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahawa satu bulan lagi kami akan dilantik menjadi doktor. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan wang sebanyak 40 pound.<br />
Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di kaki lima kedai berdua sebagai orang melarat yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di kaki lima kedai itu. Jalan keluar itu pun datang jua. Dengan sisa wang pound itu kami boleh meminjam telefon di sebuah kedai dua puluh empat jam. Saya Berjaya menghubungi seorang teman yang boleh memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan menghantarkan kami dengan keretanya mencarikan lokandat (rumah penginapan) ala kadarnya yang murah.<br />
Saat kami berteduh dalam bilik sederhana, segeralah kami disedarkan kembali bahawa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengharunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami hidup dalam lokandat itu beberapa hari, sampai teman kami berjaya menemukan rumah sewa sederhana di daerah kumuh Syubra Kaimah.<br />
Bagi kaum bangsawan, rumah sewa kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah sewa kami. Namun bagi kami, ini adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,jika seorang gelandang tanpa rumah menemukan tempat berteduh, ia bagaikan mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang tuan punya rumah sedang memerlukan wang, sehingga dia menerima aqad sewa tanpa wang jaminan dan wang perkhidmatan lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk tiga bulan. Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah ke sana. Lalu kami membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tidak lebih dari sebuah tilam kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kerusi dan satu dapur gas sederhana sekali, kipas, dan dua cangkir dari tanah, itu saja tak lebih.<br />
Dalam hidup yang bersahaja dan belum boleh dikatakan layak itu, kami tetap merasa bahagia, kerana kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan ghairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan syurga di akhirat. Kerana di syurga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnul Qayyim, bahawa ni’matnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setitis rasa ni’mat yang disediakan Allah di syurga. Jika percintaan suami isteri itu ni’mat, maka syurga jauh lebih ni’mat dari itu semua. Ni’mat cinta di syurga tidak boleh dibayangkan. Yang paling ni’mat adalah cinta yang diberikan Allah kepada penghuni syurga, saat Allah memperlihatkan wajahNya. Dan tidak semua penghuni syurga berhak meni’mati indahnya wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mencapai ni’mat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya iaitu Al-Quran dan Sunnah. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allahlah yang berhak memperoleh segala cinta di syurga.<br />
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepadaNya. Isteri saya jadi rajin membaca Al-Quran, lalu memakai tudung, dan tiada putus solat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi puteri raja yang cantik mengghairahkan. Di akhir malam ia menjelma menjadi Rabiah Adawiyah yang larut dalam samudera munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang dia adalah doktor yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berperibadian kuat, ia bertekad untuk menempuh hidup berdua tanpa bantuan siapa pun, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia juga seorang wanita yang pandai mengurus wang . Wang sebanyak 55 pound yang tersisa setelah membayar rumah cukup untuk makan dan pengangkutan selama satu bulan. Tetangga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kami juga mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah doktor. Sampai-sampai ada yang kata tanpa disengaja: “Ah, kami ingat para doktor itu pasti semuanya kaya, ternyata ada juga ya yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.”<br />
Akrabnya persahabatan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya seperti saudara sendiri. Ada yang menawari isteri agar menumpangkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka. Kerana kami memang doktor yang sibuk.<br />
Ada yang membelikan keperluan dapur. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan itu. Kehangatan tetangga itu seolah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami.<br />
Yang lebih menyakitkan, mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. Suatu malam ketika kami sedang tidur nyenyak,tiba-tiba rumah kami diketuk dengan kasar dan ditendang oleh empat penjahat kiriman ayah saya. Mereka merosakkan segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya mereka patah-patahkan, begitu juga kerusi. Katil tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman: “Kalian tidak akan hidup tenang, kerana berani menentang Tuan Pasha!” Yang mereka maksudkan dengan “tuan pasha” adalah ayah saya yang saat itu pangkatnya naik menjadi jeneral.<br />
Keempat-empat banjingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bersama-sama berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami atur kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan juga kapas-kapas yang berserakan, kami masukkan dalam tilam dan kami jahit tilam yang koyak-rabak tidak karuan itu. Kami susun semula buku-buku yang bersepah. Meja dan kerusi yang pecah itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tidur kepenatan dengan tangan erat bergenggaman, seolah-olah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan tekanan hidup ini. Benar, firasat saya mengatakan ayah tak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat berita dari seorang teman bahawa ayah telah merancang scenario keji untuk memenjarakan isteri saya berdua dengan tuduhan wanita pelacur. Semua orang juga tahu kuatnya pegawai perisik ketenteraan di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di bawah telapak kaki mereka. Saya hanya boleh pasrah segalanya kepada Allah mendengar hal itu.<br />
Dan masya Allah! Ayah memang merancang rancangan itu dan tidak mengurangkan niat jahatnya itu kecuali setelah seoarang teman karibku berjaya memperdaya beliau dengan bersumpah akan berjaya memujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu, sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan akan berbuat lebih nekad. Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap minggu sambil meminta beliau bersabar, sampai berjaya meyakinkan saya untuk menceraikan isteriku. Inilah rancangan temanku itu untuk terus menghulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya dapat mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.<br />
Beberapa bulan setelah itu datanglah saatnya masa wajib militer (tentera). Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang sangat saya takutkan, tidak ada kemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama satu tahun saya tidak dapat tidur kerana memikirkan keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hambaNya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapat kesempatan bekerja sementara di sebuah klinik kesihatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah.<br />
Selesai wajib militer, saya terus menumpahkan segenap rasa rindu pada kekasih hati. Saat itu adalah musim bunga. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestin yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia dan lepas dari belenggu derita.<br />
Sambil menatap ke kaki langit<br />
Kukatakan padanya<br />
Di sana, di atas lautan pasir kita akan berbaring<br />
Dan tidur nyenyak sampai Subuh tiba<br />
Bukan kerana ketiadaan kata-kata<br />
Tetapi kerana kupu-kupa kelelahan<br />
Akan tidur di atas bibir kita<br />
Besok, oh cintaku, besok<br />
Kita akan bangun pagi sekali<br />
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka<br />
Dan kita akan terbang bersama angin<br />
Seperti burung-burung<br />
***<br />
Yah, saya pun memimpikan yang demikian. Ingin rasanya istirehat dari nestapa dan derita. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah berkeras untuk masuk program Magister bersama. Gila! Idea gila! Fikirku saat itu. Bagaimana tidak. Ini adalah saat yang paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai doktor di Negara teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tak berperasaan. Tetapi isteri saya malah terfikir untuk meraih Magister. Saya pujuk dia untuk menghentikan niatnya. Tapi dia tetap berkeras untuk meraih Magister dan menjawab dengan logik yang tak kuasa saya tolak:<br />
“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan dan mendapat tawaran dari fakulti sehingga akan memperolehi keringanan dalam pembiayaan, kita harus bersabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita reguk sumsum penderitaan ini, kita sempurnakan prestasi akademik kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”<br />
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad membaja isteriku,hatiku pun luruh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya. Jadilah kami berdua masuk program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Kemasukan hanya cukup-cukup untuk hidup, sementara keperluan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktikal, buku dan lain-lain. Nyaris kami hidup seperti kaum sufi. Makan hanya dengan roti isy dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam-malam kami lalui bersama dengan perut lapar, teman setia kami adalah air paip. Ya, air paip. Masih terakam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama pada suatu malam sampai didera rasa lapar tak terkira, kami ubati dengan air. Yang terjadi, kami malah muntah-muntah. Terpaksa wang untuk beli buku kami ambil untuk beli pengisi perut. Siang hari, jangan tanya, kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.<br />
Meski sedemikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikit pun. Tidak pernah saya melihat isteri saya mengeluh, menangis, sedih atau pun marah kerana suatu sebab. Kalaupun dia menangis itu bukan menyesali nasibnya, tetapi dia lebih merasa kasihan pada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah dengan selera high class,tiba-tiba harus hidup sengsara seperti pengemis. Dan sebaliknya saya juga merasa kasihan melihat keadaan dia, dia yang asalnya hidup selesa dan makmur dengan keluarganya harus hidup menderita di rumah sewa yang buruk dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak mampu lagi melukiskan rasa sayang, penghormatan dan cinta yang mendalam padanya.<br />
Setiap kali saya mengangkat kepala dari buku, yang nampak di depan saya adalah wajah isteri yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya itu. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku, dan menatap saya penuh cinta dan senyumannya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan ini terlupakan semua. Rasanya kamilah orang paling berbahagia di dunia. “Allah menyertai orang-orang yang sabar, Sayang!” bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.<br />
Allah Maha Penyayang. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelaran Master dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya dua tahun saja. Namun kami belum keluar dari derita. Setelah meraih Master pun kami masih mengecap hidup susah, tidur di atas tilam nipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya, rahmat Allah datang jua. Setelah usaha keras, kami berjaya menandatangani kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah. Kami rasakan kembali tidur di atas tilam empuk. Kami kenal kembali makanan lazat setelah kami tinggal sekian tahun. Dua tahun setelah itu kami pun dapat membeli villa bertingkat dua di Heliopolis, Cairo. Sebenarnya saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang sesuai. Tetapi isteriku memang “gila”. Ia kembali mengeluarkan idea gila, iaitu idea untuk melanjutkan program doktor spesialis di London, juga dengan alasan logik yang susah saya tolak:<br />
“Kita doktor yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui dan kita kini memiliki wang yang cukup untuk mengambil doktor di London. Setelah bertahun-tahun kita hidup di lorong buruk dan kotor, tak ada salahnya kita raih sekalian tahap akademik tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”<br />
Ku cium kening isteriku, bismillah kita ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berjaya meraih gelaran doktor dari London. Saya spesialis saraf dan isteri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelaran doktor spesialis, kami menandatangani kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai doktor ahli sekaligus direktor rumah sakitnya dan isteri saya sebagai wakilnya. Kami juga mengajar di Universiti. Kami pun dikurniai seorang puteri yang cantik dan cerdas. Saya namakan dia dengan nama isteri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan-kebajikan.<br />
Lima tahun setelah itu kami kembali ke Cairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana seorang raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari sembilan tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertambahlah rasa cinta kami. Ini cerita nyata yang ingin saya sampaikan sebagai nasihat hidup.<br />
Jika hadirin sekalian ingin tahu isteri solehah yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru muda yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat samping kiri artis berjilbab Huda Sulthan, dialah isteri saya tercinta yang mengajrkan bahawa penderitaan boleh mengekalkan cinta, dialah Prof. Shiddiqa binti Abdul Aziz!”<br />
Tepuk tangan bergemuruh mengiri gegak kamera video menyuting sosok perempuan separuh baya yang nampak anggun dengan jilbab biru tuanya. Perempuan itu sedang mengusap cucuran airmatanya. Kamera itu juga merakam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai dan segenap hadirin yang menghayati cerita itu dengan saksama.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagusnusantoro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagusnusantoro.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagusnusantoro.wordpress.com&amp;blog=4620730&amp;post=13&amp;subd=bagusnusantoro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/satu-kisah-daripada-buku-di-atas-sajadah-cinta-karangan-habiburrahman-el-shirazy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6938d36f70222219c0efb3158adad089?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagusnusantoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sucinya cinta..tulisan dari someone</title>
		<link>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/sucinya-cintatulisan-dari-someone/</link>
		<comments>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/sucinya-cintatulisan-dari-someone/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 10:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagusnusantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagusnusantoro.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[sucinya sebuah cinta Sekarang kebanyakan universiti sedang bercuti panjang. Pada masa ini, boleh dikatakan ramai para mahasiswa berlumba-lumba untuk mendapatkan kerja. Tidak kira kerja apa, asalkan boleh mendatangkan hasil dan dapat mengisi kekosongan masa cuti yang panjang ini. Namun aku lebih suka untuk tinggal di rumah sahaja. Membantu emak berniaga kedai runcit. Lagipun. Aku ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagusnusantoro.wordpress.com&amp;blog=4620730&amp;post=11&amp;subd=bagusnusantoro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span id="more-11"></span> sucinya sebuah cinta</strong><br />
Sekarang kebanyakan universiti sedang bercuti panjang. Pada masa ini, boleh dikatakan ramai para mahasiswa berlumba-lumba untuk mendapatkan kerja. Tidak kira kerja apa, asalkan boleh mendatangkan hasil dan dapat mengisi kekosongan masa cuti yang panjang ini.<br />
Namun aku lebih suka untuk tinggal di rumah sahaja. Membantu emak berniaga kedai runcit. Lagipun. Aku ingin menghabiskan masa cutiku bersama keluarga. Selama ini aku banyak menghabiskan masa nun jauh di utara negeri untuk mengejar cita-cita dan harapan. Dan kini aku ingin menebus kembali rinduku kepada keluarga yang telah bertukar menjadi dendam ini.<br />
“ Ilah! Tolong jaga kedai kejap. Mak nak solat dulu.” Pinta emak sewaktu melintasi bangku tempat dudukku. Bagiku. Aku lebih suka bekerja di kedai runcit ini sebab aku berpeluang untuk menghabiskan beberapa buah buku yang sengaja kubeli sewaktu dalam perjalanan balik ke kampung. Kalau boleh. Aku juga ingin meningkatkan lagi perniagaan keluarga ini. Aku sedang mencari idea untuk memajukan kedai milik keluarga ini.<br />
“ Hai Ilah! Bila balik?” Tanya makcik Som sambil meletakkan barang-barang yang mahu dibelinya ke atas kaunter.<br />
“ Balik semalam. Makcik sihat?” Tanyaku sekadar berbasa-basi.<br />
“ Sihat orang tua Ilah. Lama ke kamu cuti ni?”<br />
“ Adalah dalam tiga bulan.” Jawabku.<br />
“ Berapa lama lagi pengajian kamu tu?”<br />
“ Lebih kurang empat bulan lagi makcik.”<br />
“ Ah dah tak lama tu. Nanti senanglah sikit mak dan ayah kamu bila kamu dah kerja nanti.” Katanya sambil menjelaskan bayaran dan terus berlalu.<br />
Bila disebut pasal kerja. Aku sendiri pun masih belum tahu kerja apa yang ingin ku cari nanti. Masih belum terfikir lagi dalam fikiran ku ini. Cuma yang penting. Aku ingin tamatkan pengajianku ini dengan seberapa segera. Aku ingin membantu keluarga serta menampung adik-adik yang masih lagi menuntut. kasihan aku tengok mak dan ayah bersusah payah untuk menyara kehidupan kami.<br />
Dalam keasyikan aku membaca buku itu, telefon bimbitku berbunyi menandakan ada panggilan. Aku tersenyum bila melihat nombor yang tertera kerana aku tahu siapa. Orang yang selalu aku rindu dan ingati. Orang yang banyak mengubah cara hidupku. Kadang-kadang aku seperti tidak percaya bahawa aku boleh tertarik padanya hanya dengan sekali pertemuan. Padahal sebelum ini aku tidak pernah mengenalinya. Mungkin hanya melalui abang dan adik ku yang rapat dengannya. Itulah dinamakan takdir.<br />
“ Hello!”<br />
“ Abang sini. Bagi tahu kawan-kawan yang lain kita nak buat mesyuarat persatuan petang lusa kat surau.”<br />
“ InsyaAllah…”Jawabku.<br />
“ Ilah sihat?” Soalnya.<br />
“ Sihat. Abang pula?”<br />
“ Ok saja. Maafkan abang sebab tak dapat cakap panjang. Abang ada kerja ni.”<br />
“ Nanti kita sambung lagi. Ok.” Dia memutuskan talian.<br />
Sudah lama aku tidak menemuinya membuatkan aku bertambah rindu. Maklumlah aku di Utara manakala dia di Selatan. Impian dan cita-cita yang membuatkan kami terpisah, namun tetap jua bersemi dan hadir ke dalam jiwa tatkala rindu mula membara. Entah macam mana rupa dia sekarang. Kali terakhir aku menemuinya dua bulan yang lepas, dia agak kurus sedikit. Rambutnya panjang mencecah bahu, janggut dan jambang dibiarkan tumbuh meliar. Walaupun aku sudah memberitahunya bahawa aku tidak begitu menyukai penampilannya sebegitu, namun dia tetap mengatakan itulah imejnya. Dah puas aku beritahu, tapi dia tetap begitu. Apa-apa pun keadaannya. Aku tetap sayang padanya kerana aku tahu sikap dan perangainya. Hanya penampilan dia sahaja yang begitu tetapi dia tetap hebat.<br />
Kiranya aku ceritakan, mungkin sukar untuk diterima orang. Sebenarnya aku dah lama tertarik padanya. Dia selalu menjadi imam di surau dekat kampungku. Manakala aku pula selalu menjadi makmumnya apabila berpeluang. Aku cukup tenang sewaktu mendengar bacaan ayat-ayat sucinya. Suaranya membuatkan aku terpukau sejenak. Dan kadang-kadang orang kampung memintanya untuk menyampaikan kuliah. Aku juga selalu mendengar kuliahnya. Dia cukup pandai mengolah isu-isu semasa dalam kehidupan masyarakat.<br />
“ Aah… banyak perkara yang ada padanya membuatkan aku jatuh hati.”<br />
aku rasa gembira bila teringatkan tentang mesyuarat persatuan yang akan diadakan malam lusa. Itulah peluang aku untuk menemuinya. Dengar khabar, dia bercuti sekejap sahaja kerana dia ingin mengambil kelas musim panas. Idea dialah juga untuk menubuhkan persatuan mahasiswa di kampung kami. Katanya untuk mengumpulkan anak-anak penduduk kampung yang belajar di universiti bagi mencurahkan jasa kepada pembangunan ilmu dan minda penduduk. Kami menyokong penuh ideanya itu, maka tertubuhlah persatuan mahasiswa di kampung kami.<br />
Malamku di kampung agak berbeza dengan di kampus. Ini kerana aku tidak mempunyai sebarang aktiviti khusus seperti mesyuarat persatuan, studi, bersukan dan sebagainya. Di rumah ini aku hanya mampu menghabiskan masa untuk membaca buku dan membantu keluarga di kedai runcit.<br />
Tiba-tiba sahaja aku berasa sunyi dan kesepian. Sunyi dari kesibukan kampus dan tugas seorang pelajar. Tapi sebenarnya aku rindu. Rindu pada seorang kekasih yang selalu memujuk dan membelai jiwaku dengan tingkah lakunya yang terhormat dan tutur bicaranya yang terjaga. Tingkah lakunya yang terjaga membuktikan bahawa dia menghormati maruah kewanitaanku serta kesucianku sebagai seorang gadis. Dia mampu membuatkan aku rasa selamat bila menemuinya. Tutur kata bicaranya memukau telinga serta bisa memujuk jiwa yang resah dan gelisah. Walaupun aku dan dia sekampung, namun dia tetap menjaga nama baikku dan nama baiknya daripada diperkatakan orang kampung.<br />
Cuma aku sedikit tidak faham dengan prinsipnya. Katanya, dia tak nak mengikat aku dengan sebarang janji. Jika ada takdir yang menyebelahi kami, insyaAllah kami akan diijab kabulkan.<br />
“ Abang tak nak mengikat Ilah dengan sebarang janji. Ilah bebas menentukan arah hidup dan pilihan Ilah.” Katanya padaku.<br />
“ Sekiranya ada orang datang meminang, Ilah dan keluarga berkenan serta bersetuju maka abang rela dan redha melepaskan Ilah. Abang akan sentiasa mendoakan kebahagiaan Ilah. Cuma Ilah perlu memberitahu abang saja agar abang tidak berharap.” Sambung dia lagi.<br />
“Kalau sesuatu itu telah ditakdirkan Allah milik kita, walau ia berada di seberang laut dan dalam keadaan merangkak sekalipun ia akan tetap datang ke pangkuan kita. Namun sekiranya sesuatu itu telah ditakdirkan bukan milik kita, walaupun telah kita kunyah dan telan namun ia tetap akan dimuntahkan juga.” Itulah kata-kata yang selalu diucapkan olehnya padaku.<br />
Namun. Aku pasti semua orang bersetuju sekiranya aku katakan bahawa terlalu sukar untuk kita mengubah kasih sayang sekiranya kita benar-benar mencintai seseorang kerana cinta, kasih dan sayang adalah bukan sesuatu mainan yang boleh dijual beli sesuka hati.<br />
Terlalu banyak masalah hati yang timbul sekiranya aku terus memikirkannya. Namun kadang-kadang, perasaan rinduku ini membuatkan kenangan dan ingatan pengalaman perjalanan hidup ini menjadi manis.<br />
Suasana malam di kampung cukup menenangkan jiwaku. Tiada bunyi bising dan kekalutan seperti di kampus. Di sini malamnya sunyi dan mendamaikan. Hanya sesekali sahaja terdengar bunyi burung tukang ataupun burung jampuk bernyanyi. Desir angin yang berlagu mendendangkan irama istimewa buat penduduk kampung seperti aku yang sentiasa inginkan persekitaran yang dapat mengembalikan ketenangan jiwa dan kedamaian hati. Ia membuatkan aku tidur lena bagai diulit dayang dan inang.<br />
Seperti yang telah dijanjikan, ahli-ahli persatuan berkumpul di surau untuk menghadiri mesyuarat. Kebanyakan ahli dapat menghadirkan diri, maklumlah semua kampus sedang bercuti sekarang. Aku dan beberapa kawan-kawan yang lain telah menyediakan beberapa juadah untuk jamuan selepas mesyuarat nanti. Walau apa pun, yang pentingnya aku terpaksa menyediakan laporan mengenai biro yang aku pegang. Pada mesyuarat agong yang lepas. Aku telah dilantik sebagai pengerusi biro Helwani.<br />
Mengikut tentatif mesyuarat, tujuan utama diadakan mesyuarat hari ini adalah untuk membincangkan tentang aktiviti-aktivi yang akan diadakan pada musim cuti ini. Mesyuarat dimulakan dengan ucapan aluan oleh Presiden persatuan dengan menaruh harapan agar persatuan dapat menfaatkan masa yang ada ini untuk menjalankan aktiviti yang boleh mengeratkan lagi hubungan dikalangan para ahli dan juga pada masa yang sama dapat menaburkan bakti kepada masyarakat kampung. Seterusnya pembentangan laporan oleh setiap ketua biro mengenai perkembangan gerak kerja yang telah dilakukan dan perancangan yang bakal dilakukan. Para ahli telah bersetuju untuk bersama-sama mengadakan kelas tuisyen malam untuk anak-anak kampung ini yang akan mengambil peperiksaan SPM hujung tahun nanti. Oleh itu, setiap orang dibahagikan tugas-tugas yang perlu dilakukan. Aku telah ditugaskan untuk mengajar subjek matematik.<br />
“ Hai Ilah! Engkau nampak rapat saja dengan abang Shidi tu? Ada apa-apa ke?” Tanya Marisa sewaktu kami menghadap jamuan.<br />
“ Ish, engkau ni. Aku biasa aje. Tak ada apa-apa pun. Macam engkau dengan dia juga.” Kataku. Kalau boleh. Aku tak nak kisah cinta kami ini diketahui orang sebab nanti banyak pulak masalah yang bakal timbul nanti. Lagipun aku dah janji dengan abang Shidi untuk merahsiakannya selagi dapat.<br />
“ Manalah tau agaknya-agaknya senyap berisi pulak.” Sampuk Elisa.<br />
“ Takkanlah dia nak pilih orang macam aku. Sedangkan kat kampus dia tu ramai lagi yang lebih baik dari aku.” Helah aku.<br />
“ Engkau mana tahu hati orang. Lagipun aku tengok dia tu macam suka saja kat engkau.” Sambung Marisa lagi.<br />
“ Engkau orang ni, jangan pandai-pandai pulak nak mereka-reka cerita. Kan susah pulak aku nanti.” Kataku sambil berlalu dengan membawa pinggan-pinggan serta cawan ke sink.<br />
Nampak gayanya, kawan-kawan yang lain dah mula dapat menghidu hubungan baik kami ini. Bukan apa. Aku takut juga nanti bila orang dah tahu akan tersebar pula berita-berita yang tidak benar tentang kami.<br />
Tadi abang Shidi sempat memberitahuku bahawa dia nak datang ke rumah malam nanti. Katanya dah lama dia tak jumpa aku, jadi dia nak datang melawat aku di rumah. Khabar itu membuatkan aku gembira. Memang aku menanti-nanti kedatangannya. Ingin sekali aku menatap wajahnya sepuas hatiku untuk menebus segala rinduku. Ingin sekali aku dengar suaranya agar bisa membangkitkan perasaan kasih dan sayang. Begitulah kebiasaannya bila dia pulang bercuti ke kampung. Dia akan datang menemuiku di rumah di temani keluargaku sendiri sebagai saksi pertemuan kami. Agar kami dapat mengelakkan dari sebarang fitnah dan cerita dari mulut manusia.<br />
Malam ini aku turun berjemaah di surau. Berkebetulan abang Shidi yang menjadi imamnya. Sudah lama juga aku tidak menjadi makmumnya, tidak mendengar bacaan ayat-ayat suci al-Quran dan alunan zikirnya. Malam ini aku berpeluang lagi untuk menikmati keindahan dan kemerduan suaranya itu. Selepas solat maghrib, para jemaah memintanya untuk menyampaikan kuliyah maghrib. Walaupun tanpa persediaan, namun dia masih mampu untuk menyampaikan kuliyahnya dengan baik dan teratur sekali. Aku lihat,para muslimat dan kaum ibu begitu khusyuk sekali dan kadang-kadang tersenyum oleh kerana telatah dan lawak yang diselitkannya dalam kuliyahnya itu. Dia membincangkan isu masalah umat zaman sekarang. Zaman teknologi yang penuh dengan cabaran yang boleh menggugat keimanan para orang Islam.<br />
“ Tanpa iman yang kukuh dan persediaan ilmu, orang Islam akan hanyut dalam arus kemodenan yang telah ditaja barat dengan membelakangkan agama. Pada pendapat mereka, dengan berpegang pada agama ia akan menghalang penganutnya dari mencapai kemajuan dan kemodenan.” Kata abang Shidi.<br />
“ Telah banyak bukti-bukti yang ditunjukkan Allah bagaimana kesan dan kesudahannya kemodenan yang membelakangkan agama. Contohnya barat sendiri. Dalam mengejar arus kemodenan, kita boleh lihat berapa ramai para remaja perempuan mereka yang melahirkan anak-anak diluar nikah. Semakin maju kehidupan mereka semakin banyak jenayah yang berlaku dan semakin hebat perancangannya. Semakin maju dan canggih peralatan semakin singkat cara berpakaian mereka sehingga mereka tanpa segan silu mendedahkan tempat-tempat yang tidak sepatutnya didedahkan kepada orang ramai.” Hujahnya lagi.<br />
“ Hari ini, perkara sebegini telah menular ke dalam masyarakat kita. Anak-anak kita bebas berpakaian yang kononnya ‘up to date’ atau mengikut arus semasa. Mereka juga bebas memilih pasangan mereka serta tanpa rasa takut melakukan perkara-perkara yang selayaknya dilakukan oleh sepasang suami isteri di atas nama kekasih. Bagi mereka itulah sebenarnya kemodenan. Ibu bapa pula telah hilang peranan dan hak-hak mereka untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka hanya mampu melihat sahaja apa yang berlaku.”<br />
Bagiku, apa yang dikatakan oleh abang Shidi itu ada kebenarannya. Di kampungku sahaja, perkara-perkara seperti itu telah wujud. Anak-anak muda yang terpengaruh dengan mereka yang pulang dari bandar-bandar besar dengan membawa buah tangan berupa budaya-budaya kuning yang tidak senonoh itu. Itulah sebahagian dari perbincangan kami sewaktu mesyuarat petang tadi. Cuba untuk mendapatkan idea dan cadangan bagaimanakah cara dan jalannya untuk kami lakukan bagi mengembalikan identiti masyarakat Islam yang sedang menghadapi konflik identiti ini.<br />
“ Oleh itu, setiap kita mempunyai tanggungjawab yang besar untuk dimainkan bagi memastikan perkara ini tidak berlaku. Kita perlu sama-sama mencegahnya supaya apabila ia berlaku kita tidak akan saling menunding jari untuk meletakkan kesalahan itu di atas bahu dan kepala orang lain. Semoga Allah s.w.t membantu kita dalam menegakkan agamanya yang suci ini daripada terus dicemari oleh perkara-perkara yang menjijikkan itu.” Itulah kata-kata terakhirnya sebagai penutup untuk kuliyah maghribnya malam itu. Aku lihat, kebanyakan ahli jemaah berpuas hati dengan kuliyahnya tadi.<br />
Selepas solat isyak. Aku terus balik ke rumah kerana abang Shidi dah janji untuk datang ke rumah malam ni. Saja aku balik awal sikit kerana aku nak goreng mee sebagai jamuan bila abang Shidi datang nanti. Lagipun tak ada yang istimewa untuk hidangan nanti, cuma aku tahu abang Shidi suka makan mee.<br />
Sedang aku asyik di dapur. Aku terdengar suara ayah memberi salam. Diikuti suaranya menjemput seseorang naik.<br />
“ Jemputlah naik!” aku yakin, dia datang dengan ayah semasa turun dari surau tadi.<br />
“ Terima kasih.” Ucapnya sambil melangkah naik ke rumahku. Aku masih lagi dalam bilik untuk memakai tudung. Biarlah ayah dan mak yang melayannya dulu. Aku mengenakan tudung pink yang pernah dihadiahkan olehnya sewaktu aku menyambut ulang tahun kelahiranku yang ke 22 baru-baru ini.<br />
“ Ilah! Abang Shidi datang ni. Keluarlah.” Panggil mak. Segan juga aku nak keluar, maklumlah dah lama tak jumpa. Lagipun mak dan ayah ada sama. Apa yang aku nak cakap depan mereka nanti. Takkan nak cakap pasal cinta, rindu dan sayang. Malulah aku sebab mereka terlebih dulu makan garam daripada kami.<br />
“ Abang apa khabar?” Tanyaku sewaktu melabuhkan punggung di atas sofa setentang dengannya.<br />
“ Alhamdulillah, sihat. Ilah pulak macam mana?”<br />
“ Ok saja. Macam biasa, cuma…….” aku tak dapat menghabiskan kata-kataku bila aku tiba-tiba sedar yang mak dan ayah ada bersama kami. Kalau tidak pasti mereka tahu nanti. Tapi aku yakin, walaupun mereka tidak tahu secara pasti namun mereka dapat mengagak dari cara kami berdasarkan pengalaman mereka sebagai orang tua.<br />
“ Duduklah dulu ya, makcik nak ke dapur kejap.” Mak bangun menuju ke dapur. Manakala ayah pula bangun untuk menukar bajunya. Jadi sekarang hanya tinggal aku dan abang Shidi saja di ruang tamu rumahku itu.<br />
aku jadi lebih segan bila kulihat dia sedang asyik memerhatikan aku. Dia kemudian tersenyum bila dia lihat aku tersipu-sipu malu kerana diperlakukan begitu.<br />
“ Abang rindu pada Ilah.” Antara dengar tak dengar dia memberitahuku.<br />
“ Ilah pun macam tu juga. Tapi nak buat macam mana, nak jumpa selalu tak boleh. Sabar sajalah.” Kata-kata itu bagaikan untuk memujuk hatiku sendiri. Aku sendiri pun kadang-kadang tak tertahan rasa rindu di hati ini. Tapi di sana ada batas-batas yang perlu aku sedari agar aku tidak terjerumus ke dalam kancah yang boleh membinasakan kami sendiri.<br />
“ Kalau tidak kerana janji dan cita-cita, dah lama abang masuk pinang Ilah. Kita kahwin lagi baik daripada terus dalam keadaan begini.”<br />
aku tahu betapa abang Shidi berpegang kuat pada janjinya. Dia telah berjanji dengan keluarganya untuk menjaga ibunya yang sudah tua dan menampung pengajian adik-adiknya terlebih dahulu apabila dia tamat pengajian nanti. Lagipun dia mempunyai cita-cita yang tinggi untuk masa depan. Segala-galanya dia telah ceritakan padaku tentang janji dan cita-citanya itu supaya aku tahu keadaan dirinya. Sebab itulah dia tidak mahu mengikat aku dengan sebarang janji kerana dia takut aku tidak mampu menunggu lebih lama. Jadi aku bebas untuk menentukan haluanku sendiri. Katanya dia redha dan rela sekiranya aku memilih lelaki lain sebagai suamiku sekiranya itu sudah jodoh dan takdir bagiku.<br />
“ Ilah perempuan, abang lelaki. Lelaki punyai lebih banyak tanggungjawab terhadap keluarga yang perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum dia mendirikan rumah tangga.” Katanya padaku dulu.<br />
“ Takpelah. Abang tunaikan dulu janji abang tu dan dapatkan dulu cita-cita abang tu. Kalau ada jodoh kita tak ke mana juga.” Beritahuku pasrah. Kadang-kadang aku jadi serba salah juga, sebab cinta kami ni pelik tak seperti orang lain.<br />
“ Walau apapun, Ilah bebas menentukan jodoh Ilah. Abang tak ikat dengan sebarang janji, cuma hanya takdir Allah adalah segala-galanya.” Mengingatkan aku kembali dengan kata-katanya yang lepas.<br />
“Berapa lama abang bercuti ni?” Tanyaku mengubah topik perbualan apabila menyedari mak keluar membawa minuman.<br />
“ Malam esok abang dah nak bertolak balik ke kampus. Abang ambil semester khas. Nak pendekkan tempoh pengajian.” Beritahunya yang turut menyedari kehadiran mak itu.<br />
“ Jemputlah minum Rashidi. Mee tu Ilah yang buatkan. Rasalah.” Jemput mak.<br />
“ Entah sedap entah tidak mee tu. Baru belajar masak.” Balasku kembali.<br />
“ Alaa cuti lama, nanti boleh belajar masak kat rumah ni dengan makcik.” Jawabnya sambil tersenyum.<br />
“ Cuma kenalah rajin sikit.” Sambungnya lagi. Sambil tergelak kecil. Mak dan aku turut sama tersenyum dengan jenaka dia itu.<br />
Ah…abang tetap hebat. Aku begitu tenang apabila dapat melihat wajahnya. Dia tidak banyak berubah, cuma jambang dan misainya digunting kemas. Rambutnya agak panjang sedikit dan hampir mencecah bahu. Mungkin agak pendek sedikit dari rambutku yang lebih sedikit dari paras bahu. Saja aku potong pendek supaya senang aku menjaganya. Tapi dia lebih suka kalau aku berambut panjang.<br />
Walaupun dia masih belum menyuntingku untuk menjadi suri hidupnya, namun aku telah lama mengambilnya sebagai perwira hidupku. Ataupun dia masih lagi belum mengambilku menjadi mempelai perempuannya, namun dia telah lama menjadi pengantin lelaki dalam persandingan kami di hatiku ini. Dia telah berjaya menawan hatiku dan jiwaku oleh sebab sikapnya dan peribadinya yang membuatkan aku benar-benar kagum.<br />
“ Ya Allah. Aku bermohon padaMu dengan seluruh kehidupan ini agar menjaga perasaan kecintaan ini. Kiranya dia benar-benar ditakdirkan buatku, maka satukanlah kami di bawah naungan cinta dan kasihMu. Dan jika dia ditakdirkan bukan milikku, maka Engkau jauhkanlah dia dari pandangan dan ingatanku. Perkukuhkanlah kesabaranku dalam menghadapinya dan titiplah ke dalam hatiku sifat keredhaan dengan takdirMu wahai tuhan.” Doaku pasrah.<br />
Kami meneruskan program kelas malam untuk SPM itu. Aku dan kawan-kawan yang lain masing-masing memainkan peranan dan tugas yang telah ditetapkan. Agak sukar sikit untuk mengatur gerak kerja kerana abang Shidi tak ada sebab selalunya dialah yang banyak mengatur dan memberikan idea. Jadi agak kelam kabutlah sikit. Namun begitu dia selalu menelefonku bertanyakan perkembangan dan perjalanan program itu. Selalu juga dia memberikan cadangan dan pendapat serta buah fikirannya kepadaku untuk aku utarakan kepada kawan-kawan yang lain bagi meningkatkan lagi gerak kerja dan prestasi persatuan.<br />
Cuti kali ini memberikan aku banyak masa terluang. Aku habiskan masa-masa lapangku dengan membantu mak dan ayah di kedai sambil membaca buku. Kadang-kadang aku juga suka berfikir tentang masa depanku. Aku masih lagi tercari-cari bagaimana aku ingin membina masa depanku sendiri. Kerjayaku, keluargaku dan cita-citaku. Aku hanya ada satu semester lagi untuk menamatkan pengajianku. Aku masih tertanya-tanya kerjaya yang macam manakah yang akan ku pilih nanti. Aku cukup kabur mengenainya. Aku pernah meminta pandangan abang Shidi mengenainya, dan katanya adalah lebih baik buatku untuk memilih kerjaya yang ada kaitan dengan pengajianku sekarang ini. Namun katanya, seharusnya tidak terlalu memilih kerja. Sekurang-kurangnya kita akan mendapat pengalaman yang di luar bidang kita dan kita akan memperolehi kebolehan yang baru. Seperti dia, walaupun bidang pengajiannya dalam kejuteraan elektronik, namun tidak semestinya dia akan menjadi seorang jurutera. Katanya, dia lebih minat untuk mengendalikan perniagaan keluarganya dan ingin mengembangkan lagi. Tapi dia masih ada tiga semester untuk menamatkan pengajiannya.<br />
Hidup ini penuh dengan dugaan dan cabaran. Begitulah juga dengan percintaan ini. Tidak dinamakan cinta sekiranya tanpa kasih, sayang dan rindu. Kasih dengan berpada-pada, sayang dengan sepenuh kejujuran dan keikhlasan serta rindu yang sentiasa memenuhi kamar hidup semenjak munculnya mentari di ufuk timur hinggalah menghilangnya di horizon barat. Perasaan itu tidak pernah luput mahu pun berkurangan dari sanubari ini. Namun ia tergugat juga apabila pepohon cinta yang tertanam ini dilanda dugaan kasih dan menuntut aku supaya membuat penentuan. Pilihan setelah berada di persimpangan dilema kasih. Beberapa bulan selepas aku menamatkan pengajian, ada orang datang ke rumahku untuk merisik khabar.<br />
Kata mereka, ingin sekali merisik khabar jambangan di taman terlarang. Adakah sudah disunting orang ataupun masih harum mekar di taman ini. Bagaimana ingin aku ceritakan pada keluarga tentang ikatan kasih yang telah lama terjalin. Kasih yang mewangi menyelubungi hidup dan menghiasi serta mewarnai suka duka pengalaman hidup ini.<br />
“ Ya Allah! Cubaan apakah yang Engkau timpakan ini. Aku tidak mampu menghadapi dugaan ini tanpa bantuan dan petunjuk Mu tuhan. Aku ini gadis yang lemah bisa tersasar dan tersesat dalam melayari cinta.<br />
Ya Allah! Sekiranya ketentuan ini adalah terlebih baik buatku, maka Engkau tetapkanlah hati dalam menerimanya. Berikanlah kesabaran padaku tatkala terkenang segala pengalaman yang lalu.<br />
Ya Allah. Aku menyerahkan segala ketentuan hidupku ini di tangan Mu wahai tuhan yang mengetahui segala bicara hati ini.”<br />
aku telah menghubungi abang Shidi untuk memberitahu tentang perkara ini. Aku ingin meminta pendapatnya bagaimana untuk aku berdepan dan membuat keputusan terhadap masalah ini. Adakah perlu aku memberitahu keluargaku tentang kedudukan sebenar diriku yang telah dilamar cinta orang.<br />
“ Keputusan terletak sepenuhnya di tangan Ilah. Sebarang keputusan yang Ilah buat, abang tetap menyokongnya.” Beritahu dia padaku. Namun jawapannya itu membuatkan aku bertambah buntu dalam mencari jalan penyelesaian.<br />
“ Abang ni buat Ilah tambah buntu tau!” aku bersuara menahan air mata yang mula nak mengalir keluar.<br />
“ Sayang…..dengar elok-elok apa yang ingin abang katakan.”<br />
“ Abang pernah beritahu yang abang tak pernah ikat Ilah dengan sebarang janji. Hanya takdir Allah yang menentukan segalanya. Ilah bebas memilih sesiapa sahaja lelaki yang bakal menjadi teman hidup Ilah. Abang rela dan redha dengan pilihan Ilah asalkan Ilah bahagia dan lakukannya dengan sepenuh hati dan kesedaran Ilah.” Sambungnya lagi. Aku sudah tidak dapat menahan sebak yang mula memenuhi empangan ini. Maka mengalirlah air mata ini menuruni lurah-lurah kedukaan dan kesedihan. Betapanya cinta ini dibina suci dengan penuh setia dan kesedaran diri. Tidak pernah ternoda mahupun dinodai. Ia dipelihara suci dari sebarang bisikan-bisikan durja yang mahu merosakkannya.<br />
“ Cubalah abang fahami keadaan Ilah sekarang ni. Ilah tersepit tau.” Esakku memohon belas.<br />
“ Abang faham, abang faham sayang! Abang juga sepertimu sekarang ini. Tapi kepentingan dan kebahagiaanmu itu terlebih pentingnya bagi abang daripada kegembiraan hati abang sendiri. Abang tidak mampu untuk mengikatmu kerana cita-cita yang masih lagi tersisa.”<br />
“ Ilah tak mampu bang, Ilah tak mampu! Cinta abang telah lama bersemi di jiwa ini. Mana mungkin Ilah membelakanginya”<br />
“ Baiklah kiranya itu yang membuatkan Ilah tersepit, kini abang lepaskan Ilah dari cinta abang.” Kata-katanya itu bagaikan belati tajam yang menusuk hatiku yang telah sedia luka ini. Maka menangislah aku sendiri.<br />
Betapa sukarnya untuk menyemai benih cinta yang kadang-kadang mengambil masa seribu tahun lamanya namun terlalu senang merungkaikannya hanya dengan beberapa patah kata yang menghiasi bibir. Begitu juga dengan kenangan walaupun bercinta cuma sehari tetapi kenangan pengalaman tetap jua segar walau seratus tahun.<br />
Entah bagaimana inginku gambarkan tentang perasaan ini, bagaimana inginku lakarkan kesedihan hati ini. Sedangkan inilah cinta pertamaku ketika aku menongkah dewasa. Cinta yang disemai dan dijaga rapi. Tumbuhnya di perkarangan terlarang dihiasi dan disirami kejujuran seorang kekasih dan kehebatan seorang lelaki. Banyak yang aku pelajari darinya. Bagaimana cara nak mendidik hati, cara memperelokkan budi dan teristimewa aku dapat memahami apa itu makna kasih sejati.<br />
“……. boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.”<br />
Itulah ayat yang selalu dia perdengarkan padaku tentang hakikat kasih sayang. Juga sebuah hadis nabi yang sampai sekarang aku masih mengingatinya tentang sabda Rasulullah S.A.W:<br />
Cintailah kamu akan sesuatu sekadarnya kerana mungkin di suatu hari ia akan menjadi kebencian bagimu. Dan bencilah sesuatu itu sekadarnya kerana mungkin di suatu hari yang lain ia akan menjadi kecintaan bagi kamu<br />
aku kembali tersedar bila terkenangkan semuanya ini. Mungkin ada hikmahnya percintaan antara aku dan dia ternoktah apabila aku diijab kabulkan dengan lelaki lain. Siapa sangka semua ini akan berlaku. Dan benarlah sebagaimana yang dikatakan bahawa siapalah kita untuk mendahului takdir.<br />
Katakanlah (wahai Muhammad): &#8220;Tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia lah Pelindung yang menyelamatkan kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal&#8221;.<br />
Ayat itu dia bacakan padaku sewaktu aku benar-benar putus harap dengan apa yang telah berlaku. Aku bagaikan rasa kegelapan mula menyelubungi kehidupanku. Aku rasakan hidup ini tidak bermakna tanpa kehadirannya. Namun dia tetap tenang menasihati agar aku terus bersabar dan yakin dengan kehendak Allah Taala. Aku masih ingat lagi sewaktu hari persandinganku dulu. Dia datang menemuiku sewaktu aku berada di samping suamiku. Dia tetap tersenyum gembira dengan persandinganku itu. Pelik benar lelaki ini.<br />
“ Selamat pengantin baru. Semoga berbahagia selalu dan berkekalan hingga ke anak cucu.” Ucapnya sambil tangannya menggenggam tangan suamiku. Mereka berdua tersenyum senang. Seolah-olah mereka dah lama kenal.<br />
“ Terima kasih kerana sudi hadir.”<br />
“ Ini untukmu sahabat tanda kenangan dariku. Dan aku serahkan kekasih hatiku ini kepangkuan jagaanmu dengan rela hati dan doa yang berkekalan.” Dia meletakkan bungkusan atas ribaan suamiku.<br />
aku terkejut dengan kata-katanya itu. Tidak terfikirkah dia bahawa bicaranya itu akan membuatkan suamiku cemburu atau salah faham? Tidak terfikirkah dia untuk menyimpan rahsia kisah percintaan antara aku dan dia dari pengetahuan orang lain? Tidak terfikirkah dia bahawa rumah tangga yang baru dibina ini bakal goyah dengan bicaranya itu?<br />
“ Ah tuhan…. Mengapa ini terjadi?” Keluh hatiku sendiri.<br />
Dia kemudiannya berpaling ke arahku. Aku tidak mampu untuk menatap wajahnya itu. Namun aku paksakan untuk berbuat demikian. Aku lihat matanya berkaca-kaca menahan sebak air empangan yang mahu melimpah.<br />
“ Ilah……!!” Serunya perlahan.<br />
“ Pada hari ini dengan ikhlas hati abang serahkanmu kepangkuan suamimu yang abang hormati. Tiada yang lebih manis dan indah dalam hidup ini melainkan sewaktu abang bahagia bersama cintamu. Namun ketahuilah olehmu bahawa abang tidak mampu untuk menanggung cinta sucimu itu dan terus membawanya ke gerbang bahagia sebagaimana dirimu alami pada hari ini. Hari ini putus sudah cinta kita sebagai pasangan kekasih dan yang kekal hanyalah kasih dan sayang abang seperti saudara kandungmu sendiri.”<br />
“ Maka abang harap dirimu mampu membahagiakan suamimu ini sebagaimana abang telah bahagia dengan cintamu suatu ketika dahulu. Cintailah dia seadanya kerana dialah segala-galanya selepas tuhan dan rasul ikutanmu. Abang doakan dirimu bahagia di sampingnya seorang lelaki yang kini bergelar suami buatmu.” Ujarnya bersendu dan syahdu. Aku sudah tidak mampu lagi menahan tangisan hati ini. Manik-manik jernih mula berlumba-lumba menuruni kelopak yang tak mampu menahan terjahannya.<br />
“ Usahlah dirimu menangis di hari berbahagia ini. Senyumlah tanda kesyukuran kerana dikurniakan tuhan seorang lelaki yang terlebih baik untuk menggantikan tempat abang dalam hidup mu.” Dia meletakkan bungkusan hadiah di sisiku sambil berlalu meninggalkan majlis persandinganku itu. Aku berpaling melihat suamiku, dia mengangguk-angguk ke arahku. Aku tidak tahu apakah makna anggukannya itu.<br />
Sejak dari hari itu. Aku cuba untuk melupakan kisah cinta yang lalu. Aku ingin membuka lembaran kasih baru di samping suamiku. Siapa sangka, benih mawar yang disemai tapi kemboja yang tumbuh. Cintaku untuk dia rupanya diganti dengan orang lain. Lelaki jenis apakah itu? Takut untuk menghadapi kenyataan dan tak mampu untuk berusaha bagi mengekalkan kisah cinta ini. Selalu menyerahkan pada takdir. Sebagai perempuan. Aku masih mampu untuk mempertahankan kesucian cinta ini tapi apabila tiada jaminan buatku darinya mana bisa aku mempertahankannya sendirian. Menghadapi segala cubaan dan dugaan perasaan yang selalu menerkam pintu kesabaran hati. Dan akhirnya aku terpaksa mengikut arus setelah dia sendiri yang melepaskan tali ikatan cinta ini dari hatinya. rasa hormat dan kagum terhadapnya mula terhakis sedikit demi sedikit apabila aku dibiarkan begini.<br />
Tapi setelah beberapa waktu, akhirnya terbongkar juga sebuah kisah yang terselindung disebalik kisah percintaan kami dulu tatkala aku menimang cahaya mataku yang pertama. Rupa-rupanya suamiku juga turut terlibat sebagai watak tambahan dalam kisah duka itu. Tidak kusangka bahawa perkahwinan kami ini adalah rancangan antara suamiku dan abang Shidi. Pada mulanya aku cukup sedih bila mendengarnya dari mulut suamiku. Begitu murah sekali cintaku sehingga ia boleh di ambil bila mahu dan ditolak bila dah jemu? Begitu sekalikah rapuhnya ikatan cinta itu sehingga ia boleh diurai sesuka hati bila-bila masa sahaja?<br />
“ Bukan begitu..” Bela suamiku.<br />
“ Habis tu macam mana?” Soalku kecewa.<br />
“ Dia lakukan semuanya ini adalah untuk kebahagian Ilah. Bukan untuknya. Dia menderita kerana memilih jalan ini. Tapi kerana Ilah, dia sanggup lakukannya.” Jelas suamiku.<br />
aku semakin tidak faham dengan sandiwara mereka ini. Apakah cerita sebenar yang mereka selindungkan dari pengetahuanku?<br />
“ Sebenarnya dia tidak mahu Ilah menjadi janda dalam usia yang masih muda.” Keterangan suamiku itu membuatkan aku terkejut bagaikan dipanah petir.<br />
“ Kenapa abang cakap begitu?!”<br />
“Dia mengidapi penyakit yang sudah kronik. Dia tidak mahu Ilah menanggung kesusahan kerananya.” Kelihatannya sendu dengan kata-kata itu.<br />
“ Kenapa dia tidak pernah memberitahu Ilah?” Soalku seperti tidak percaya dengan apa yang telah diberitahunya.<br />
“ Entahlah abang pun tak tahu.”<br />
Aah…Kenapa abang Rashidi tidak memberitahu aku pasal ini? Kenapa abang tidak beritahu sendiri kepada Ilah? Kenapa abang biarkan Ilah berperasangka terhadap abang?<br />
Ya Allah! Cinta yang terbina ini adalah dengan sepenuh hati. Kuserahkan kepada-Mu segala-galanya dalam menentukan perjalanannya. Kehidupan yang diidamkan adalah umpama suatu impian yang kini telah jadi mimpi. Namun aku tetap bersyukur kerana telah dapat mengecapi cinta yang tulus walaupun hanya sebentar dan kini aku telah dianugerahkan seseorang yang bergelar suami di sisiku.<br />
Ya Allah! Kini aku pasrah dalam menghadapi ketentuan-Mu. Doaku, berilah dia kebahagian yang berkekalan dan tabahkanlah hatinya dalam menempuh dugaan. Sesungguhnya aku telah bahagia bersama cintanya dan anugerahkanlah dengan kebahagian yang terlalu agung buatnya.<br />
aku terlalu sukar untuk membendung perasaan ini bila mengingatkan apa yang telah berlaku. Perasaan cinta yang telah disemai dan dijaga dengan sepenuh perhatian. Cinta dan kasih suci yang tidak pernah ternoda dengan sebarang muslihat jahat yang menguasai hati. Terlalu sukar untuk memiliki lelaki sehebat itu.<br />
Walau apa pun yang berlaku, dia tetap dalam ingatanku. Bukanlah aku ingin membelakangkan suamiku. Tidak sama sekali. Namun kenangan lalu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan. Apatah lagi bila ia melibatkan perasaan kita. Lagipun abang Rashidi rupa-rupanya adalah kawan baik suamiku kini. Mereka bersahabat sejak dibangku sekolah lagi. Namun takdir yang telah menentukan segala-galanya. Cintaku pada orang lain dan pelaminku bersama orang lain. Aku tetap bangga kerana cintaku berlaku demikian bukan kerana pengkhianatan, tapi oleh kerana keikhlasan dan pengorbanan seorang kekasih yang terlalu tulus cintanya.<br />
Sehingga kini aku masih lagi teringat saat dia nazak terlantar di katil hospital. Wayar-wayar berselirat menghiasi badannya, namun ia tidak mampu untuk menahan ataupun menyekat kehadiran malaikat maut yang berdiri bersedia untuk memenuhi tuntutan tugas yang sudah tertulis sejak azali lagi.<br />
Dia kelihatan pucat dan begitu kurus sekali, namun masih mampu untuk menghadiahkan senyuman kepada para tetamu yang datang melawatnya tika itu walaupun mereka diselubungi pilu menantikan saat-saat perpisahan yang entah bila akan berlaku. Ahli keluarga dan waris terdekatnya berpusu-pusu datang dan aku serta suamiku hanya mampu memerhati dari jauh.<br />
“ Ya Allah! Ringankanlah penderitaannya dan jemputlah dia dalam keadaan Engkau meredhai dan merinduinya.” Doa hatiku. Aku sudah tidak mampu untuk melihat keadaannya begitu.<br />
Dalam keadaan murung dan suram begitu, dia mengamit semua yang hadir untuk mendekatinya. Kami memenuhi permintaannya itu walaupun ada yang sudah terisak-isak dengan tangis.<br />
“ Sa…saya moo…hon aampun dan maaaf daari semua….” Dia cuba untuk berkata-kata walaupun terlalu sukar suara untuk keluar melalui kerongkongnya. Para pelawat semuanya tunduk kesyahduan menahan sedih yang menujah pantai hati.<br />
“ Saa…ya miin…ta halal makan daaan mii…num.”<br />
“ Ya Allah! Gagahkanlah hatiku ini untuk menerima cubaan mu dan tetapkanlah kesabaran dalam menghadapi saat ini serta titipkanlah keredhaan dalam hatiku untuk menerima takdir Mu.” Bisik hatiku.<br />
“ Allahu Akbar!!!” Itulah kalimat terakhir yang aku dengari dari lidah seseorang yang pernah aku cinta dan sehingga kini cintanya tetap menghiasi kebahagiaanku. Pemergiannya itu tetap aku rasai kerana kehilangan seseorang yang telah banyak mengajar aku erti sebuah kehidupan, keikhlasan dan kesucian sebuah cinta.<br />
“ Ya Allah! Rahmatilah rohnya dan tempatkannya bersama orang-orang soleh. Berikanlah dia keutamaan di sisiMu sebagai seorang yang banyak berjasa kepada agama Mu.” Itulah doaku sewaktu aku menziarahi pusaranya bersama suami dan tiga orang cahaya mataku yang aku bina atas keikhlasan dan kesucian cintanya yang dibawanya bersama untuk menemui tuhan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagusnusantoro.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagusnusantoro.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagusnusantoro.wordpress.com&amp;blog=4620730&amp;post=11&amp;subd=bagusnusantoro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/sucinya-cintatulisan-dari-someone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6938d36f70222219c0efb3158adad089?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagusnusantoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>trainer BLC telkom Tuban</title>
		<link>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/trainer-blc-telkom-tuban/</link>
		<comments>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/trainer-blc-telkom-tuban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 10:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagusnusantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagusnusantoro.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[sementara ini aktifitas saya adalah menjadi trainer pelatihan internet..<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagusnusantoro.wordpress.com&amp;blog=4620730&amp;post=7&amp;subd=bagusnusantoro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8" class="wp-caption alignnone" style="width: 337px"><img class="size-full wp-image-8" src="http://bagusnusantoro.files.wordpress.com/2008/08/udah-dikompres1.jpg?w=500" alt="di depan masjid agung sunan bonang"   /><p class="wp-caption-text">di depan masjid agung sunan bonang</p></div>
<p>sementara ini aktifitas saya adalah menjadi trainer pelatihan internet..</p>
<div id="attachment_9" class="wp-caption alignnone" style="width: 458px"><img class="size-full wp-image-9" src="http://bagusnusantoro.files.wordpress.com/2008/08/pict0658.jpg?w=500" alt="Di arena training"   /><p class="wp-caption-text">Di arena training</p></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagusnusantoro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagusnusantoro.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagusnusantoro.wordpress.com&amp;blog=4620730&amp;post=7&amp;subd=bagusnusantoro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagusnusantoro.wordpress.com/2008/08/26/trainer-blc-telkom-tuban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6938d36f70222219c0efb3158adad089?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagusnusantoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bagusnusantoro.files.wordpress.com/2008/08/udah-dikompres1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">di depan masjid agung sunan bonang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bagusnusantoro.files.wordpress.com/2008/08/pict0658.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Di arena training</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
